Sunday, May 20, 2012

Perbaiki Gangguan Fungsi Tiroid secara Alam

Share |

Terapi terhadap gangguan tiroid tidak semata didasarkan pada gejala yang timbul, tetapi dilakukan secara menyeluruh dengan memperhatikan karakteristik individu penderitanya. Seperti apa pendekatannya?

Pernahkah kita menyadari fungsi vital kelenjar tiroid bagi tubuh kita?

Tiroid  adalah kelenjar kecil berbentuk kupu-kupu yang terletak di pertengahan leher bagian bawah dan memiliki peranan penting dalam proses metabolisme tubuh.

Dokter Amarullah H. Siregar, DHom, DNMed, MsC, MA, PhD, ahli pengobatan naturopati menjelaskan, kelenjar tiroid ini memproduksi hormon yang disebuat tiroksin (T4) dan Triiodontironin (T3) yang memiliki dua fungsi utama dalam sistem metabolisme tubuh di hipotalamus otak, yaitu sebagai pengatur metabolisme tubuh (regulator) dan sumber energi (energizer) tubuh.

Sebagai regulator metabolisme dalam tubuh, kelenjar tiroid  bertugas mengambil semua zat makanan yang diasup (anabolisme) dan membuang semua racun yang bersarang di dalam tubuh (katabolisme). Sedangkan sebagai energizer, kelenjar tiroid bertugas untuk mengatur produksi energi di dalam mitokondria, yaitu pembangkit tenaga bagi seluruh sel untuk kelangsungan kehidupan kita.

”Karenanya jika tiroid bermasalah, atau ditemukan ada gangguan penurunan energi pada kedua unsur tersebut, maka tubuh tidak dapat mengambil zat gizi yang diperlukan secara sempurna untuk kelangsungan hidup dan tidak mampu membuang racun yang bersarang di dalam tubuh. Ini akan menyebabkan kekuatan sel di dalam tubuh (daya elatisitas sel) menurun karena tubuh kita dipenuhi oleh racun,” Dr Amarullah menjelaskan.

Tidak selalu menimbulkan gejala

Namun demikian, daya imunitas atau elatisitas sel dalam tubuh setiap individu tidaklah sama. Tergantung dari karakteristik setiap individu, kebiasaan, dan gaya hidup yang dijalankan, sehingga gejala tiroid yang muncul akibat gangguan kelenjar tiroid tersebut tidak sama pada setiap individu.

Pada sebagian individu, gangguan tiroid tidak sampai menimbulkan suatu gejala, juga masih dianggap memiliki jumlah hormon tiroid normal yang beredar di dalam darah setelah dilakukan pemeriksaan dengan skala uji biomarker untuk mengetahui seberapa banyak kandungan racun yang bersarang di dalam tubuh. Namun demikian, untuk mencapai kadar hormon tiroid normal tersebut, kelenjar tiroid memerlukan pendorong lebih besar dari kelenjar pituitari di otak, yang ditandai dengan adanya peningkatan perangsang (thyroid stimulating hormone/TSH) di dalam darah. Dalam dunia kedokteran, keadaan ini sering disebut dengan istilah hipotiroid subklinis, yaitu suatu keadaan yang menunjukkan ketidakseimbangan hormon, tetapi masih belum menimbulkan suatu gejala nyata adanya gangguan kelenjar tiroid.

Terjadi kontroversi dalam dunia kedokteran untuk masalah ini. Di antara dokter ahli endokrinologi ada yang berpendapat pasien dengan kondisi ini tidak memerlukan perawatan khusus, tetapi sebagian dokter yang lain menganggap memerlukan perawatan, terutama jika  pasien tersebut diketahui memiliki kadar kolesterol yang tinggi.

Hipertiroid dan hipotiroid

Pada sebagian individu, gangguan ketidakseimbangan kerja kelenjar tiroid ini menimbulkan gejala nyata. Seperti diketahui, di dalam tubuh, kelenjar tiroid diperintah oleh kelenjar pituitari dan hipotalamus yang ada di otak untuk memproduksi hormon tiroid. Perintah yang disebut thyroid stimulating hormone ( TSH) ini akan ditangkap oleh reseptor-reseptor (sel penerima pesan) di dalam tubuh, sehingga kelenjar tiroid bisa menghasilkan hormon yang seimbang.

Namun karena gangguan fungsi atau adanya penurunan kemampuan energi sel di dalam tubuh, maka kelenjar tiroid ini tidak mampu menghasilkan jumlah hormon yang dibutuhkan oleh tubuh. Akibatnya, metabolisme dalam tubuh berjalan lebih lambat dari yang seharusnya. Kondisi inilah yang disebut hipotiroid. Pada sebagian orang, keadaan ini tidak menimbulkan gejala khas, tetapi pada sebagian yang lain dapat menyebabkan kelelahan, depresi, konsentrasi menurun, kulit kering, kaki bengkak, denyut jantung melambat, kulit kering serta menimbulkan penurunan suhu tubuh secara keseluruhan.


Selain itu, kekurangan hormon tiroid juga bisa menimbulkan benjolan padat dan lunak, yang bisa jinak atau ganas. Tapi tidak perlu khawatir, karena berbeda dengan benjolan ganas lain (kanker tiroid), meski sudah menyebar, tetap bisa sembuh 100 persen jika stadiumnya masih dini,” kata  Dr Dante Saksono Harbuwono, SpPD, PhD, dari bagian endokrinologi metabolik dan diabetes FKUI/RSCM.
Gangguan fungsi kelenjar tiroid juga bisa terjadi jika tubuh memproduksi hormon tiroid secara berlebihan, sehingga metabolisme tubuh berjalan lebih cepat dari yang seharusnya. Inilah yang disebut dengan hipertiroid. Sebagian ahli endokrinologi mengatakan, hipertiroid ini antara lain disebabkan oleh reaksi radang pada kelenjar tiroid, sehingga tempat penyimpanan hormon tiroid pun pecah, lalu hormon tiroid masuk ke dalam peredaran darah, hingga tubuh pun mengalami kelebihan hormon.

Menurut Dr Dante, pada sebagian orang hipertiroid menimbulkan gejala seperti, jantung berdebar lebih kencang (lebih dari 100 kali per menit), banyak berkeringat, berat badan turun, sering merasa panas meskipun berada di ruang ber-AC, dan kondisi emosi tidak stabil (mudah marah).

Pada wanita, hipertiroid bisa menyebabkan gangguan menstruasi dan gangguan kesuburan, karena untuk bisa hamil wanita membutuhkan sel telur yang harus dikirim dari indung telur ke rahim untuk dibuahi, sementara yang berperan dan bertanggung jawab dalam pengiriman ini adalah hormon tiroid.

Apalagi jika gangguan tiroid terjadi pada fase kehamilan, hal ini bisa lebih bahaya lagi, baik bagi si ibu maupun perkembangan janin, dan setelah kelahiran. Terutama bila hipotiroid terjadi pada tiga bulan pertama kehamilan, karena pada periode tersebut, janin hanya dapat memperoleh hormon tiroid dari ibunya.

Karenanya, gangguan kelenjar tiroid ini harus segera atasi; jika tidak, bisa berakibat fatal. Selain itu, dalam jangka waktu lama dikhawatirkan dapat menimbulkan kelainan jantung tiroid. “Ini merupakan salah satu kelainan jantung yang sulit diobati. Jadi, kalau ada gejala-gejala seperti di atas, segeralah ke dokter,” saran Dr Dante.

Pemeriksaan dan pengobatan secara alami

Namun demikian, menurut dokter ahli naturopati Dr Amarullah H. Siregar, untuk mengatasi gangguan tiroid ini, pendekatan yang digunakan tidak selalu berdasarkan gejala yang muncul, dan dilakukan sedini mungkin tanpa harus menunggu hingga timbulnya suatu gejala.

Selain itu, juga harus didasarkan pada pendekatan menyeluruh dengan melihat karakteristik individual setiap penderitanya, kebiasaan hidup dan pola makan, serta pada level mana gangguan kelenjar tiroid tersebut terjadi. Tujuannya untuk mengembalikan tingkat wellness (kenyamanan fisik) dan meningkatkan reliabilitas atau daya lentur sel terhadap serangan virus atau bakteri. Untuk itu, maka pertama yang harus dilakukan adalah mengetahui secara persis apa penyebab gangguan yang  diderita pasien, apakah karena faktor primer di hipotalamus otak, misalnya karena tercemar logam berat, obat-obatan, terpapar rokok atau karena faktor sekunder seperti kebiasaan hidup, pola kerja yang buruk, atau pola makan yang tidak baik, yang antara lain menyebabkan kadar iodium yang dikonsumsi berkurang atau berlebih.

Jika hal-hal yang mendasari ini sudah diketahui, atau jika diperlukan dilakukan uji biomarker untuk mengetahui secara pasti pada level mana ketidaknyamanan terjadi dan  dirasakan, barulah dilakukan pengobatan, misalnya pemberian herba yang cocok sesuai sifat dan karakteristik penderitanya. ”Karena dalam naturopati, pendekatan pengobatannya bersifat individual, didasarkan pada siapa menderita apa. Jadi bukan semata didasarkan pada gejala yang timbul dan obatnya apa,” tutur Dr Amarullah.

Sebagai contoh, adalah apa yang dialami oleh Anita Yolanda (29 tahun). Tahun 2004, ia sering mengalami depresi, gatal-gatal di seluruh tubuh, berat badan turun drastis dan perasaan cemas hampir setiap hari. Dokter yang memeriksa memvonis dirinya menderita hipertiroid dan memberinya hormon tiroid pengganti (tiroksin) untuk menekan kadar tiroid dalam darah. Tetapi dua tahun berjalan, setiap kali obat habis ia tetap harus bolak-balik ke dokter, dan hasilnya pun tidak ada perubahan. ”Setiap malam menjelang tidur jantung saya masih terus berdebar,” tutur Anita.

Anita lalu menjalani pengobatan secara alami. Dokter Amarullah - setelah melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap kebiasaan hidup dan pola makan yang dijalaninya, serta pemeriksaan biomarker untuk mengetahui kadar hormon tiroksin (T4) dan Triiodontironin (T3) dalam darah - memberinya ramuan herba tertentu. Selain itu, juga menyarankan untuk mengubah pola hidup agar lebih sehat, antara lain mengurangi konsumsi seafood yang menjadi menu kegemarannya dan memperbanyak konsumsi buah dan sayur hijau serta dan menghindari stres.

”Dua bulan sejak menjalani terapi secara alami ini, kondisi saya sudah mulai membaik. Pemeriksaan darah untuk mengetahui kadar T4 dan T3 menunjukkan angka normal. Jantung tidak lagi berdebar, dan gatal-gatal yang saya rasakan juga sudah jauh berkurang,” tutur Anita.
Dokter Amarullah menjelaskan, konsep penanganan pada kasus kelainan tiroid adalah dengan menyeimbangkan kembali fungsi hormon tiroid bagi kelangsungan hidup pasien secara menyeluruh. Tidak sekadar pemberian obat-obatan (pemberian hormon tiroid) berdasarkan gejala yang muncul atau operasi untuk pengangkatan benjolan tiroid yang biasanya timbul. (N)

Nirmala Magazine

 

Autis | Autism | Autisma | Biomedical Treatment | Sitemap