Gangguan Berbicara dan Berbahasa Pada Anak |
| Written by dr. Rina Adeline SpMK, MKes |
| Thursday, 20 May 2010 01:13 |
|
Kegiatan berbicara merupakan ungkapan dari konsep simbolisasi, merupakan proses neuromuskuler yang mengkordinasikan pernapasan, penyesuaian laring dan pemakaian struktur faring, langit-langit, mulut dan wajah. Suara yang dihasilkan akan menimbulkan sensasi dengar yang mengaktifkan impuls saraf. Dengan kata lain komunikasi oral adalah rangkaian yang terdiri dari berpikir, simbolisasi, suara, transmisi suara, mendengarkan, memperhatikan, dan mengerti. Kelainan pada salah satu jalur misalnya sistem saraf, organ bicara, mekanisme pendengaran, dan atau kombinasi kelainan faktor-faktor pemahaman dapat menyebabkan kelainan komunikasi atau yang lebih dikenal dengan “keterlambatan bicara”. Perkembangan bicara pada anak berlangsung seiring dengan perkembangan motorik, adaptasi dan sosialisasi anak. Dan kemampuan berbicara tergantung pada proses pematangan, dimana terdapat “masa persiapan bicara” yaitu antara 9 bulan – 5 tahun, kemampuan berbicara ini merupakan akumulasi belajar berbagai bagian bahasa sejak umur beberapa minggu.
Kelaianan atau gangguan bicara dibagi dalam beberapa jenis kelainan :
Lebih sering sebagai akibat kelainan struktur atau organ bicara, kelaianan gigi geligi, atau celah bibir dan langit-langit, juga dapat pula diakibatkan oleh kelaian motorik bicara seperti adanya kerusakan sistem saraf yang mengatur otot-otot bicara.
Terdapat kerusakan di daerah pusat bicara akibat disfungsi minimal otak karena trauma kepala, tumor otak, atau kelainan genetik. Terdapat 2 jenis afasia : afasia ekspresif ; mengerti namun tidak dapat mengutarakan, dan afasia reseptif ; tidak mengerti simbol bahasa.
Disebabkan oleh kelainan getaran pita suara akibat gangguan aliran dan tekanan udara.
Beberapa keadaan yang menyebabkan “keterlambatan bicara” adalah sebagai berikut : 1. Gangguan Pendengaran Bahasa dan bicara yang digunakan anak dengan kelainan pendengaran beresiko terhadap berkurangnya kemampuan berkomunikasi oral, hal ini akibat putusnya rantai sensasi dengar sehingga tidak terbentuk rangsangan saraf di otak. Gangguan pendengaran dapat terjadi pada : a. Masa prenatal (dalam kandungan) : Kelainan masa ini bisa diakibatkan kelainan genetik misalnya pada kelainan kromosom (trisomi 21 atau fragile X syndrome) atau non genetik (kelainan anatomi, infeksi TORCH, obat-obatan teratogenik atau ototoksik, dan alcoholism) b. Masa perinatal (segera setelah lahir) : Kelahiran prematur, berat badan lahir rendah (< 2500 gram), ekstraksi vacuum atau forcep, tingginya bilirubin darah, asphiksia berat dan anoksia (gangguan oksigenasi otak dimana APGAR 5 menit < 5). c. Masa postnatal (setelah lahir): Sering akibat infeksi telinga, atau trauma kepala.
2. Gangguan Sistem Saraf Pusat Kerusakan otak di daerah pusat bicara menyebabkan afasia. Kelainan ini bisa diturunkan, akibat trauma kepala atau kelainan neurologi lain seperti tumor otak.
3. Mental Retardasi 50% kasus mengenai anak laki-laki, dan angka kejadian 2-3% dari populasi.
4. Lingkungan Sering terjadi pada mereka dengan pola asuh yang salah seperti misalnya disiplin terlalu keras, atau kurangnya motivasi untuk bicara.
5. Kelumpuhan Organ Bicara Gangguan motorik akibat kerusakan pusat motorik otak dan jarasnya yang sifatnya permanen dan progresif, contoh : pada cereberal palsy.
6. Kelainan Rongga Mulut Adanya celah bibir dan langit-langit, lidah pendek dan tebal, kelainan gigi geligi, biasanya mempengaruhi pengucapan. Disamping itu adanya sumbatan jalan nafas serta perbesaran tonsil dan adenoid juga dapat mempengaruhi nada suara.
Kita perlu mencurigai adanya kemungkinan keterlambatan bicara pada anak bila ditemukan gejala-gejala sebagai berikut :
Apa yang harus kita lakukan bila anak terdapat keterlambatan bicara :
|
Autis | Autism | Autisma | Biomedical Treatment | Sitemap