Sunday, May 20, 2012

DNA oh DNA…Ternyata Kamu…

Share |
Written by dr. Rina Adeline SpMK, MKes   
Saturday, 24 November 2007 07:00

Hari Rabu, 14 November 2007, salah satu mahasiswa saya, orang Malaysia mendatangi saya sambil menangis, “ Dokter…this is so wrong…I have little brother back home and he has just diagnosed juvenile diabetic… How can this happen to my family…as I know we don’t have genetic trait to this kind of illness!!!”

Hhmm…

Pernahkah terlintas di benak anda, “ Ah…saya dan keluarga saya tidak mungkin menderita penyakit anu, karena itu khan penyakit genetik…”

Percayakah anda bila saya katakan lingkungan dapat mempengaruhi perubahan genetik kita?

Manusia diciptakan sesungguhnya dalam kondisi genetik yang sempurna, sehat. Sayangnya setiap genetik kita memang memiliki kerentanan-kerentanan tertentu. Dan setiap kerentanan yang tidak terkoreksi akan menimbulkan perubahan pada genetik berikutnya, perubahan pada metabolismenya pula.

 

Bila demikian apa saja yang menyebabkan kerentanan genetic  berlanjut?
Kerentanan genetik berlanjut karena kondisi-kondisi yang disebut stressor sel, yaitu :
1.    Paparan radikal bebas
2.    Xenobiotik
3.    Infeksi virus
4.    Alergi

Ke-4 nya mengakibatkan perjalanan kerusakan yang sama :
1. Alergi → 2. Kematian Sel →   3. Pembentukan sel mutan
Bagaimana sel kita berespon terhadap gangguan-gangguan tersebut?
Ada 2 hal yang terjadi pada sel kita dalam menghadapi stressor sel :

  1. Adaptasi ; Respon fisiologis sel terhadap paparan benda asing. Sel kita dibekali kemampuan mengingat benda asing yang masuk, dengan jalan mempercepat metabolismenya, transportnya dan pembuangannya. Pada tahap ini tidak terjadi kerusakan maupun perubahan sel.
  2. Respon Toksik ; Bila kemampuan sel beradaptasi menurun akibat paparan yang terus menenerus dan jumlah paparan yang meningkat, sel akan berubah. Perubahan yang terjadi dapat berupa :
  • Tahap pertama : Radang/Inflamasi : ditandai dengan Dolor (bengkak), Rubor (peningkatan perdarahan), Kalor (peningkatan suhu), dan fungsiolesa (sembuh). Gangguan yang diakibatkan dapat berupa alergi dan supresi kekebalan.
  • Tahap kedua : Kematian sel : mengakibatkan pembentukan degenerative terhadap banyak organ seperti;  jantung, ginjal, paru, dan hati.
  • Tahap ketiga : Mutagenesis : dapat berupa embryotoksik atau carsinogenesis.

Kasus mahasiswa saya termasuk ke dalam respon toksik tahap 2.
Adakah cara mencegah respon toksik?
Tentu saja ada cara mencegah respon toksik, yaitu dengan meningkatkan mekanisme pertahanan sel. Mekanisme pertahanan sel dapat dijalankan dengan 2 cara :

A.    Mekanis :
•    Perbaikan kwalitas lingkungan :

  • Emisi gas buang,
  • Reboisasi,
  • Pengelolaan limbah industry,
  • Penanganan pembuangan sampah (Mas Rully lebih ahli nampaknya untuk urusan ini).

•    Menghidari perkawinan keluarga; pada perkawinan kekerabatan, presentase genetik rentan menjadi besar sehingga factor yang awalnya lemah menjadi kuat.

B.    Fungsional :
•    Dietary

  • Pola makan seimbang diyakini dapat meningkatkan mekanisme pertahanan sel secara fungsional, seperti : 40% karbohidrat, 30% protein, 30% lemak. Ini sangat mudah diterapkan karena menu tradisional orang Indonesia sudah memenuhi kaidah pola makan seimbang.
  • Rotasi jenis makanan, dengan tidak mengkonsumsi jenis makanan yang sama dalam 24 jam. Tujuan mengurangi kemungkinan penumpukan makanan yang tidak tercerna secara sempurna dan juga mencegah kesalahan intepretasi sel pertahanan.
  • Mengurangi penggunaan zat aditif, preservative, dan artificial.
  • Pengelolaan makanan tidak terlalu lama, karena proses masak yang terlalu lama dapat menyebabkan hilangnya zat gizi.

•    Suplementasi
Jenis-jenis suplemen berikut dapat mencegah perubahan genetik kita :
1)    Suplemen meningkatkan daya tahan :

  • Zeng (Zn); meningkatkan daya tahan dengan mempercepat sintesa protein membentuk asam amino dan meningkatkan produksi enzim superokside dismutase yang berperan langsung terhadap detoks radikal bebas. Pada pria Zn juga berperan terhadap fungsi kelenjar prostat.
  • Sumber : daging sapi, telur, ikan, kacang polong, kacang kedelai.
  • Sulfur (dalam bentuk Methionein, Taurin, Cystein dan Gluthation); fungsi meningkatkan proses oksidatif terhadap polusi dan radiasi, pengenalan radikal bebas, dan meningkatkan barier pertahanan permukaan sel pada jaringan.
  • Sumber : kubis, broccoli, kedelai, bawang putih, bawang merah, ikan patin.
  • Selenium ; menghalangi oksidatif lemak sebagai elemen pembentuk glutathione. Bekerja sinergik dengan vitamin E dan vitamin C dalam mencegah formasi radikal bebas. Selenium juga merupakan kompetiror langsung mercury.
  • Sumber : daging sapi, daging ayam, telur, broccoli, salmon, lele, bawang merah, bawang putih, beras merah.
  • Calcium ; Merupakan second messenger penghambat alergi, berperan dalam pempertahankan elastisitas sel darah merah, penguat tulang dan gigi.
  • Sumber : Broccoli, kacang kedelai, susu sapi, keju.

2)    Antioksidan lain :

  • Alpha Lipoic Acid : dikenal dengan recycler vitamin E dan C, merupaka antioksidan metabolic karena tanpa ini sel tidak mampu menghasilkan energy.
  • Sumber : hanya terdapat pada broccoli dan bayam.
  • Coenzym CoQ10 ; supply oksigen pada sel jaringan, merupakan energy sel yang utama, meningkatkan daya tahan tubuh dengan cara menjaga permaebilitas darah.
  • Vitamin A dan Betha carotene ; menjaga barier pertahanan mukosa baik usus maupun pernapasan.
  • Sumber : Wortel, semangka, manggis.

3)    Pengganti sel dan pembentuk energy

  • Vitamin B6 ; vitamin otak dan metal yang utama, membantu metabolism protein pada pusat emosi di hypothalamus, meningkatkan transport oksigen .
  • Vitamin B12 ; juga merupakan vitamin neuronal utama, dapat mempercepat penyembuhan dan pertumbuhan sel saraf.
  • Vitamin B kompleks
  • Carnitin ; bekerja sama dengan vitamin B2. Merupakan pembentuk energy pada otot dan otak.

Duh…alangkah bijaknya kalau kita mulai memperhatikan genetik kita…karena genetik kita inilah yang nanti akan menentukan model seperti apa sih penerus kita kelak…anak-anak kita, cucu-cucu kita…tentu saja yang lebih besar lagi…bangsa kita…

 

Autis | Autism | Autisma | Biomedical Treatment | Sitemap