|
Semakin hari semakin sering aku mendengar keluhan: “Kenapa ya anak ini? Makin sulit dikendalikan, keinginannya semakin tidak dimengerti, semakin sulit diatur, semakin sering marah-marah tanpa sebab, kalau kesal pasti memukul atau membuang barang dan semakin lainnya yang kita sebagai orangtua menganggapnya negatif.”
Apakah kita sebagai orangtua sudah tidak memiliki kemampuan yang cukup mendidik mereka? Apakah kita sebagai orangtua menurunkan sifat yang buruk? Apakah kita sebagai orangtua sudah kekurangan waktu untuk memperhatikan mereka?
Pernahkan terlintas dipemikiran kita sebagai orangtua bahwa makanan juga memberikan pengaruh? Hhhmm…sedikit yang berpikiran ini. Bahkan kalangan praktisi medis pun masih banyak yang meragukan keterlibatan makanan terhadap perilaku, yang padahal “YA “ makanan sangat berpengaruh.
Perilaku tersebut diatas termasuk dalam katagori perilaku agresif, yang diperankan oleh satu pusat di otak kita yang disebut AMIGDALA.
Apa AMIGDALA? Amigdala berasal dari bahasa latin amygdalae adalah sekelompok saraf yang berbentuk kacang almond. Pada otak vertebrata terletak pada bagian tengah lobus temporal, dan secara anatomi amigdala merupakan bagian dari basal ganglia. Amigdala merupakan bagian otak yang berperan dalam melakukan pengolahan dan ingatan terhadap reaksi emosi. Selain itu Amigdala juga berperan pada beberapa fungsi kognitif diantaranya atensi, persepsi, dan daya ingat. Berikut adalah skema input dan output sistem dalam amigdala :
Some of the major input and output connections of the amygdala. Sensory abbreviations: aud, auditory; vis, visual; somato, somatosensory; gust, gustatory (taste); olf, olfactory. Modulatory arousal systems abbreviations: NE, norepinephrine, DA, dopamine, ACh, acetylcholine; 5HT, serotonin). Stimulasi amigdala terutama akan berpengaruh pada jalur Sensory Cortex dan Modulatory Sytems. Artinya semua stimulasi yang terjadi pada amigdala sebagian besar akan berpengaruh pada sistema panca indera dan emosi.
Kondisi-kondisi yang akan mempengaruhi amigdala :
1. Stress baik secara fisik/metabolik maupun psikologis. 2. Inflamasi atau reaksi radang seperti infeksi, alergi, dan autoantibody. 3. Oksidatif stress pada DNA.
Mari kita bahas dimana makanan dapat mempengaruhi amigdala, namun sebelumnya kita bahas dahulu kondisi yang mempengaruhi amigdala.
Stress Kondisi stress apapun bentuknya baik fisik/metabolik (kelaparan, dingin, tindakan operasi) maupun psikologis (ketakutan, perpisahan) akan memicu pengeluaran hormon-hormon seperti Adrenocorticotropin Hormon (ACTH) dan Corticotropin Hormon (CRH) dimana hormon-hormon ini akan menyebabkan hambatan sintesa antibodi oleh limfosit terutama terhadap protein. Stimulasi hormon ACTH juga akan menyebabkan produksi hormon neuropeptida yang disebut endorphin (suatu hormon menyerupai morphine).
Inflamasi Inflamasi atau reaksi radang sesungguhnya merupakan mekanisme pertahanan tubuh. Dimana tubuh akan menghasilkan sitokin-sitokin tertentu yang bekerja pada akhirnya menghalau benda asing. Namun demikian efek samping yang terjadi sebagai akibat proses ini adalah dihasilkannya mediator-mediator yang juga justru berperan terhadap kematian sel ataupun timbulnya alergi.
Oksidatif Stress Radikal bebas akan menggunakan oksigen untuk proses oksidasi yang meningkatkan senyawa-senyawa yang sangat toksik yang juga menyebabkan fungsi sel menurun ataupun bahkan menyebabkan kematian sel. Ini yang disebut dengan oksidatif stress. Oksidatif stress juga diyakini bersifat karsinogenik sehingga memicu berkembangnya sel-sel kanker. Pengaruh Makanan Tentu saja tidak semua makanan memiliki pengaruh terhadap perilaku. Hanya makanan tertentu yang mampu mempengaruhi jaras seperti ketiga jaras diatas yang akan berakibat stimulasi amigdala. Pendeknya makanan tersebut adalah :
1. Protein susu (casein) dan protein gandum (gluten) Untuk memecah protein-protein ini dibutuhkan enzim khusus yang disebut Diphenylpeptidase IV (DPPIV) yang dihasilkan oleh salah satu sel daya tahan tubuh kita yang disebut sel CD26+. Berdasarkan penelitian oleh Karl L Reichelt, Institute of Pediatric Research, University of Oslo, Oslo, Norway, enzim ini dihasilkan dalam jumlah tertentu oleh CD26+, dengan kata lain tidak tergantung dari jumlah asupan protein casein dan gluten.
Apabila protein casein dan gluten tidak sempurna terpecah oleh DPPIV maka akan menimbulkan alterasi produksi hormon endorphine oleh hipotalamus akibat ikatan antara casein atau gluten dengan reseptor morphine, dan hasil metabolisme ini akan menyerupai efek penggunaan narkoba. Hal ini akan menstimulasi amigdala menyerupai kondisi stress, sehingga tidak saja berpengaruh pada perilaku namun juga kognitif.
Fungsi sel CD26+ ditekan oleh adanya radikal bebas (jaras oksidatif stress) terutama logam mercury (Hg) dan timbal (Pb), juga ditekan secara langsung oleh infeksi (jaras inflamasi) yang disebabkan oleh virus campak (morbili).
Pada penyakit celiac yaitu penyakit autoimmune predisposisi genetik pada usus kecil dimana terdapat kegagalan proses deaminasi gluten yang memicu radang pada usus kecil. Akibat kegagalan proses ini menimbulkan penumpukan glutamat yang secara langsung mempengaruhi amigdala melepas dopamine dan epinephrine mengakibatkan peningkatan emosi.
2. Gula Terutama yang bersifat gula rantai kompleks atau polisakarida diantaranya laktosa, seperti gula pasir dan gula merah dan bentuk gula invert, diantaranya madu.
Gula kompleks dan gula invert dapat memicu reaksi radang, karena gula-gula jenis ini tidak seluruhnya dapat dipecah oleh enzim tubuh dan cenderung disimpan sebagai cadangan energi dalam bentuk glikogen dengan ikatan keton dan aldehid. Ikatan-ikatan inilah yang sering memicu reaksi radang.
Laktosa sendiri dapat menekan IgA sel saluran cerna sehingga daya tahan mukosa di saluran cerna menjadi menurun. Hal ini dapat mengakibatkan gangguan absorbsi zat gizi dan timbulnya reaksi-reaksi intoleran terhadap makanan. Glutamat sebagai akibat tidak terpecahnya gula kompleks akan mempengaruhi amigdala.
Beberapa jenis jamur yang normal hidup dalam saluran cerna seperti Candida albican akan menggunakan gula rantai kompleks menghasilkan alkohol yang secara langsung juga mempengaruhi amigdala. Pertumbuhan jamur ini secara berlebih di saluran cerna akan memicu dilepaskannya IgE yang bertanggungjawab terhadap terjadinya proses alergi.
3. MSG Mono Sodium Glutamat MSG bersifat eksitotoksin, zat ini secara langsung akan memicu amigdala melepas epinephrine, norepinephrine, dopamine, dan serotonin sehingga menimbulkan perilaku agresif dan hiperaktif.
4. Makanan pemicu alergi Jenis makanan ini tentu saja sangat bervariasi bagi masing-masing individu tergantung dari sifat genetik yang dibawa. Reaksi alergi ditandai dengan meningkatnya kadar IgE dalam tubuh dan juga melepas mediator-mediator sel seperti histamin yang mempengaruhi amigdala melalui jalur hormonal hipotalamus.
5. Makanan yang tercemar Terutama yang terkontaminasi radikal bebas seperti logam berat mercury (Hg) dan timbal (Pb) serta pestisida. Makanan ini mempengaruhi amigdala melalui jaras stress oksidatif . Pada stress oksidatif, enzim yang pertama akan terganggu adalah enzim yang dipakai untuk memecah karbohidrat rantai kompleks (gula kompleks dan gula invert), kembali akan menimbulkan glutamat yang langsung berpengaruh pada amigdala.
Selain itu juga akan menyebabkan hilangnya calcium (Ca) dalam tubuh yang mana calcium adalah mineral utama metabolisme dalam amygdala. Hilangnya calcium akan berpengaruh pada seluruh output amigdala. Logam berat mercury (Hg) dan timbal (Pb) menyebabkan kerusakan sel saluran cerna menyebabkan reaksi radang pada saluran cerna. |